Warisan Budaya Aceh: Tradisi, Seni, dan Identitas Lokal

Authors

  • Ratna Dewi Universitas Bina Bangsa
  • Dinda Amara Putri Universitas Bina Bangsa
  • Fauziyah Fauziyah Universitas Bina Bangsa
  • Siti Nurelisah Universitas Bina Bangsa
  • Vira Dwi Amaliah Universitas Bina Bangsa

DOI:

https://doi.org/10.62383/aksinyata.v2i3.1639

Keywords:

Aceh's Cultural Heritage, Traditions, Arts, Local Identity

Abstract

Aceh is known as a province with cultural diversity and customs that are the outlook on life of its people. Customs are highly preserved because they are ancestral heritage that must be passed on to the next generation. One important aspect of culture is the regional language, which is an inseparable part of people's lives. Language functions as a means of communication to interact and build social relationships. Language is a meaningful expression used to convey messages that can be understood by the listener (Rizky, 2012). The Acehnese people are known to have a strong culture, reflected in the expression "matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita" which contains deep philosophical values. This expression shows people's awareness of the importance of customs in everyday life. Acehnese customs are an integral part of the culture that continues to live and develop in society. This custom makes a major contribution to the continuity of socio-cultural life in Aceh

References

Abubakar, B. (2016). Bahasa dan identitas: Diaspora Etnik Aceh di Yan Kedah.

Ali, M. (2013). Pemahaman kebudayaan dalam perspektif sosial masyarakat Aceh. Jurnal Kebudayaan Nusantara.

Aoulia, B. R. P. (2024). Peran bahasa Aceh dalam mempertahankan identitas budaya di era globalisasi. Jurnal Society: Pengamat Perubahan Sosial, 4(2), 85–96.

Azra, A. (2005). Jaringan ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII. Jakarta: Prenada Media.

CNN Indonesia. (2023, 26 Februari). 6 lagu daerah Aceh dilengkapi lirik dan maknanya. CNN Indonesia. Diakses 10 Juni 2025, dari https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230223133154-569-916892/6-lagu-daerah-aceh-dilengkapi-lirik-dan-maknanya

Erawadi. (2011). Tradisi, wacana dan dinamika intelektual Islam Aceh abad XVIII dan XIX. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Fairuz, S. F., & Rahman, A. (2015). Peranan Pekan Kebudayaan Aceh (Pka) ke IV dan V dalam membangkitkan kebudayaan Aceh: (Studi kasus Tari Saman dan Seudati). Seuneubok Lada: Jurnal Ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Kependidikan, 2(1), 70–85.

Hadi, A. (2000). Aceh: Budaya, sejarah, dan tradisi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Hoesein Djajaninggrat, R. A. (1990). Upacara pula Bate pada makam Sultan Iskandar Muda II (1936–1941) (Alih bahasa Aboe Bakar). Banda Aceh: Pusat Informasi dan Dokumentasi Aceh.

Kumparan. (2024, 23 Agustus). 37 makanan khas Aceh yang menggugah selera setiap orang. Kumparan. Diakses 10 Juni 2025, dari https://kumparan.com/jendela-dunia/37-makanan-khas-aceh-yang-menggugah-selera-setiap-orang-23NJXraOaOL

Neisa, N. S. A. (2019). Eksistensi rumah adat Krong Bade di Kecamatan Mila Kabupaten Pidie tahun 1972–2017.

Puteh, A. (2012). Nilai-nilai Islam dalam kebudayaan Aceh. Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala Press.

Tihabsah, T. (2022). Aceh memiliki bahasa, suku, adat dan beragam budaya. Jurnal Serambi Akademica, 10(7), 738–748.

Ulfa, N. (2011). Seni dan kebudayaan Aceh. Banda Aceh: Lembaga Kebudayaan Aceh.

Umar, M. (2008). Geografi Aceh dan kebudayaannya. Banda Aceh: Pustaka Aceh.

Downloads

Published

2025-06-20

How to Cite

Ratna Dewi, Dinda Amara Putri, Fauziyah Fauziyah, Siti Nurelisah, & Vira Dwi Amaliah. (2025). Warisan Budaya Aceh: Tradisi, Seni, dan Identitas Lokal. Aksi Nyata : Jurnal Pengabdian Sosial Dan Kemanusiaan, 2(3), 51–67. https://doi.org/10.62383/aksinyata.v2i3.1639

Similar Articles

1 2 3 4 5 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.