Refresing dan Evaluasi Monitoring Kader dan Keluarga dalam Perawatan ODGJ dengan Model Kelurahan Peduli Sehat Jiwa Dikota Semarang

Authors

  • Sri Endang Windiarti Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang
  • Nurisda Eva Irmawati Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang
  • Dian Tri Utami Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

DOI:

https://doi.org/10.62383/aksisosial.v2i4.2671

Keywords:

Health Cadres, Mental Disorders, Quality of Life, Skizofrenia, Social Stigma

Abstract

The prevalence of mental disorders in Indonesia reached 1.8 per mile, with Central Java at 2.5 per mile, ranking fourth after the Special Regions of Yogyakarta, Bali, and West Nusa Tenggara. In Semarang City, the prevalence of severe mental disorders is recorded at 1.1 per mile (Health, 2018). The high rate of recurrence at the dr. Aminogondo Hutomo Mental Hospital Semarang shows that the stigma against mental disorders is still strong, so the quality of life of sufferers remains low. This is exacerbated by the lack of awareness among families and communities that people with mental disorders need full support from the environment. To answer these challenges, the Peduli Sehat Jiwa Village model was developed as a community-based health service program. This program involves interventions in the form of mental health knowledge refreshment for families, community leaders, cadres, and health workers; the establishment of a health working group; mental health cadre training; as well as assistance to the families of the sufferer. The main focus is directed on non-communicable diseases, in particular schizophrenia. The hope of this community service is to reduce the rate of recurrence, reduce the burden on families and the government, increase public awareness of mental health, and suppress the emergence of new cases. With a participatory approach, this program is expected to be able to reduce stigma and improve the quality of life of people with mental disorders in a sustainable manner.

References

Anna Keliat, Helena Noivie, F. P. (2011). Manajemen Keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa (F. P. Anna Keliat, Helena Noivie (ed.); 2011th ed.). EGC.

Henderson, C., Noblett, J., Parke, H., Clement, S., Caffrey, A., Gale-Grant, O., Schulze, B., Druss, B., & Thornicroft, G. (2014). Mental health-related stigma in health care and mental health-care settings. The Lancet Psychiatry, 1(6), 467–482. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(14)00023-6

Hendriyana, A. (2013). Setiap Tahun Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia Terus Meningkat.. (p. t.. http://www.unpad.ac.id/profil/dr-suryani-skp-m).

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Pedoman umum pengembangan desa dan kelurahan siaga aktif.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Buku Pegangan KADER Pemberdayaan Masyarakat Mengelola Menghadapi Krisis Kesehatan. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementrian Dalam Negri Republik Indonesia. (2013). Peraturan Mentri Kesehatan RI ttg Pedoman Pelaksanaan dan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. https://peraturan.bpk.go.id/Details/111722/permenkes-no-8-tahun-2019

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementrian Dalam Negri Republik Indonesia. (2014a). Undang-Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementrian Dalam Negri Republik Indonesia. (2014b). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 1–38.

Maisya, I. B., Susilowati, A., Upaya, P., Masyarakat, K., & Kesehatan, B. L. (2017). Peran keluarga dan lingkungan terhadap psikososial ibu usia remaja. Kesehatan Reproduksi, 8(2), 163–173.

Maulik, P. K., Devarapalli, S., Kallakuri, S., Praveen, D., Jha, V., & Patel, A. (2015). Systematic Medical Appraisal, Referral and Treatment (SMART) Mental Health Programme for providing innovative mental health care in rural communities in India. Global Mental Health, 2, e13. https://doi.org/10.1017/gmh.2015.11

Meta Sawitri. (2010). Perbedaan Kualitas Hidup antara Skizofrenia Gejala Positif dan Gejala Negatif Menonjol. Universitas Sebelas Maret.

Sri Endang Windiarti, Wien Sulistyo Adi, S. (2015). Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pendampingan Keluarga terhadap Kekambuhan Klien Post di Rawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. amino Gondohutomo Provinsi Jawa Tengah. POLTEKKES SEMARANG.

Upaya, K. D. J. B. J. (n.d.). Rencana Aksi Kegiatan Tahun 2015-2019 Direktorat Binan Kesehatan Jiwa.

Wardhani, W. L. dan Y. F. (2104). Stigma dan Penanganan Penderita Gangguan Jiwa Berat yang dipasung. Badan Litbang Kemenkes RI.

Windiarti, S. E. (2022). Pengaruh Kelurahan Peduli Sehat Jiwa terhadap Stigma Gangguan Jiwa skizoprenia. Desertasi.

Downloads

Published

2025-12-30

How to Cite

Sri Endang Windiarti, Nurisda Eva Irmawati, & Dian Tri Utami. (2025). Refresing dan Evaluasi Monitoring Kader dan Keluarga dalam Perawatan ODGJ dengan Model Kelurahan Peduli Sehat Jiwa Dikota Semarang. Pemberdayaan Masyarakat : Jurnal Aksi Sosial, 2(4), 288–301. https://doi.org/10.62383/aksisosial.v2i4.2671

Similar Articles

<< < 1 2 3 4 5 6 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.